![]() | |
| Pertumpahan darah |
Dalam kesempatan tersebut, para ulama dan tokoh lintas agama, termasuk, Imam Besar Al-Azhar Mesir Dr Ahmad Al Tayeb, mendesak pemerintah dan masyarakat kawasan Timur Tengah serta dunia Islam untuk berbuat lebih banyak dalam menciptakan "budaya koeksistensi" antarumat beragama.
Ahmad Al Tayeb menegaskan, Timur Tengah saat ini mengalami masa dimana kelompok ekstremis membelokkan agama untuk tujuan politik mereka sendiri dan membuat konflik kian memanas.
"Kita menyaksikan banyak masalah di kawasan ini, seperti perang tanpa alasan yang logis. Suatu hal yang menyakitkan melihat agama dipandang ada dibalik perang ini. Kita melihat banyak orang yang kehilangan nyawanya," kata Ahmad Al Tayeb pada 28 Februari 2017 lalu.
"Gambaenya semakin suram. Para kriminal memanfaatkan penafsiran yang salah (tentang Islam) yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama atau kitab suci kita.... semua masalah ini tak ada kaitannya dengan Islam, tetapi Islam telah diperalat untuk menumpahkan darah," kata ulama besar mesir itu seperti.
Shaikh Tayeb mengatakan, kekerasan yang dilakukan sejumlah kelompok ekstremis telah membuat dunia salah dalam memandang Islam.
" Ruh dan Jiwa sirna, dan terciptalah lautan darah, Saat ini hal itu membuat banyak orang beralih melawan agama kita."
"Islamofobia telah menciptakan dampak yang sangat serius terhadap warga muslim di seluruh dunia. Kita perlu membebaskan manusia sedunia untuk mendapatkan penawar untuk penyakit ini," sambung dia.
Sementara itu Sekretaris jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mengajak umat Islam meneladani dan bercerimin kepada toleransi Islam saat muslim menguasai Andalusia-Spanyol sekarang. Kala itu, umat Islam dan Kristen dapat hidup berdampingan dengan damai.
"Era Andalusia meneladenkan tingkat toleransi yang optimal. Tak ada bandingnya, pengalaman yang menakjubkan. tetapi kini kita hidup di era fanatisme. Ini adalah fenomena yang tengah terjadi, sangat disayangkan dan menyedihkan," kata Aboul Gheit seperti dilaporkan laman Khaleej TImea.
"Masa depan Dunia Arab, akan sangat tergantung apakah wilayah ini sedia merengkul berbagai budaya dana agama serta mengantarkannya ke 'era pluralisme'. Saya yakin sekali Timur Tengah akan besar karena keberagaman, atau mengering bahkan mati jika kita kehilangan itu," imbuh Aboul Gheit. dikutip dari Liputan 6 (18/5/2017).


0 Komentar